Pengasuh:KH. BADRIL MUNIR
KH. AGUS MASRUCHIN BADRI
Alamat:JL. JEMBER SETAIL GENTENG-BWI
Propinsi:Jawa_Timur
Contact:Telp:0333 846382
Fax:
Email:
Website:
Keterangan:Menerima:Putra-Putri
Deskripsi:Pesantren Raudlatut Thalabah Setail (RTS) berdiri sekitar tahun 1950 yang didirikan Oleh KH. Badril Munir. Dan sekarang diteruskan oleh KH. Agus Masruchin Badri
لاَ يُؤْمِنُوْ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُؤْمِنَا بِمُحَمَّدٍ صَلَّى للّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
BISMILLAHI WA 'ALA MILLATI WA SUNNATI ROSULILLAH
ALLOHUMMA SHOLLI 'ALA SYAIDINA MUHAMMADIN NURI DZATI WA SIRRI SARI SIRRUHU SARIYYAN BIJAMI'IL ASMA WA SIFAT
ALLOHUMMA SHOLLI 'ALA SYAIDINA MUHAMMADIN WA 'ALA ALIHI WA SHOHBIHI WASALLIM TASLIMAN KATSIRO

Sabtu, 12 Maret 2011

Abdullah bin Abdul Muththalib (Ayahanda Rasulullah SAW)

Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570) adalah ayah dari Muhammad, Nabi Islam. Ia anak Abdul-Muththalib. Ia meninggal di perjalanan kafilah antara Mekkah dan Madinah. Saat ia meninggal Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah.
Silsilah lengkapnya adalah:
‘Abdullah bin ‘Abdul-Muththalib bin Hasyim (Amr) bin Abdul Manaf (al-Mughira) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka`b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.
Meski meninggal dalam usia muda, Abdullah bin abdul Muthalib adalah termasuk benang merah dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad. Karena dari benihnyalah lahir seorang menusia paling mulia dalam sejarah umat manusia. Lahir di kota Mekah, riwayat Abdullah bin Abdul Muthalib secara keseluruhan adalah juga sejarah Abdul Muthalib, ayahandanya. Karena kelahiran Abdullah mengiringi sebuah cerita dramatik yang seakan menjadi pertanda penting dalam menentukan episode hidup Nabi berikutnya.
Namun sangat disayangkan, hanya secuil siluet perjalanan hidupnya yang terekam sejarah, “Abdullah ayah Rasulullah SAW tidak memiliki anak lelaki atau perempuan selain Muhammad. Dan di Madinah dia wafat bersama paman-pamanya dalam usia muda” tutur Muhammad Fawzi Hamzah dalam muqoddimah buku mininya “Abdullah Abun-Nabi”. Maka melalui tulisan padat dan singkat ini, penulis coba membentangkan jalan menyingkap tabir sejarah Abdullah ayahanda nabi yang selama ini remang-remang. Tentang Abdullah bin abdul Muthollib
Biasanya, dalam memprediksi tahun kelahiran seorang tokoh yang tidak hadir pada zamannya, sejarawan mengaitkannya pada kejadian besar yang pernah terjadi pada masa tokoh itu hidup, sebelum dia lahir atau pun setelah kematiannya. Seperti saat menentukan kelahiran nabi besar Muhammad yang bersanding dekat dengan peristiwa diserangnya Ka’bah oleh tentara bergajah pimpinan Abrahah. Kemudian sejarah mengenalnya sebagai ‘amul fiil [tahun gajah] 570 M. Uniknya, dalam kasus Abdullah bin Abdul Mutholib tidak ada kejadian berdekatan yang bisa disandarkan untuk menentukan tahun kelahirannya. Hingga para sejarawan dalam menentukan tahun kelahirannya, perlu menarik jauh masanya sampai tahun gajah, dimana pada tahun itu pula anak semata wayangnya Muhammad lahir. DR. Haikal dalam “Hayat Muhammad”, mencoba membongkar misteri tahun kelahiran Abdullah, hingga terciptalah syajarah nasab [pohon nasab] yang memuat silsilah keluarga nabi berikut tahun kelahirannya: Qusay lahir tahun 400 M, Abdu Manaf 430 M, Hasyim 464 M, Abdul Mutholib 497 M, Abdullah 545 M, Muhammad SAW 570 M [bertepatan dengan tahun gajah, Red].
Berdasarkan perhitungan tersebut maka DR. Haikal menetapkan angka 25 sebagai usia wafatnya abdullah -terhitung sebelum tahun gajah-. Tidak banyak sejarawan yang mencatat masa kecilnya, kecuali hanya sebuah deskripsi bahwa Abdullah, “..seorang yang paling bagus rupa dan akhlaqnya di antara suku Quraisy..dari wajahnya terpancar cahaya nabi…seorang lelaki yang sedap di pandang di antara suku Quraisy..[Abdullah Abun-Nabi, hal.109]. Memang tidak ada seorang pun yang mampu melukis sosok Abdullah secara detail. Namun mengikuti perkataan nabi bahwa saat seseorang semakin bertambah umurnya, dia akan semakin menyerupai bapaknya.
Maka cukuplah meraba sosok Abdullah dari sifat-sifat yang ada pada diri anaknya, Muhammad SAW. “Maka Rasulullah adalah keturunan Adam yang paling mulia, dan terbaik nasabnya dikarenakan bapak-ibunya”, demikian Ibnu Hisyam dalam sirahnya. Kembali sejarawan berselisih dalam menetapkan umur Abdullah saat menikahi Aminah binti Wahab. Sebagian menyebut angka 18 tahun, dan lainnya mengatakan lebih dari itu. Al-Isti’ab menyebut umur Abdullah saat menikahi Aminah mencapai 30 tahun, angka yang aneh jika dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat arab yang mengawinkan anaknya dalam usia muda.
Satu hal yang pasti dalam masalah ini, Abdullah menikahi Aminah setelah lolos dari undian yang menetukan dia sebagai sembelihan bapaknya; satu-satunya peristiwa dramatik dari Abdullah yang dikenang sejarah. Ahmad Taaji dalam sirah-nya [Sirah an-nabi al-arabi [1]:42] menyebut umur Abdullah saat itu 18 tahun. Ana Ibnu Ad-Dzabihaini dalam Mustadrok-nya, Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Mu’awiyyah yang mengisahkan Rasul pernah dipanggil dengan “Ibnu ad-Dzabihaini” oleh sahabat Ibnu ‘Arabi. Beliau hanya tersenyum tanpa sedikitpun menyangkalnya.
Sahabat lain pun bertanya, “siapa dzabihaini itu ya Rasulullah??”. “Mereka berdua Ismail dan Abdullah”, jawab Rasul. Bahkan, -dalam kaitannya dengan julukan Abdullah sebagai ad-dzabih- Ibnu Burhanuddin, mengangkat sebuah hadits yang dengan bahasa telanjang Rasulullah menyebut dirinya, “ana ibnu Dzabihaini”. Namun dia tidak mengingkari ke-gharib-an hadits ini di karenakan dalam sanadnya ada satu periwayat yang majhul [tidak diketahui, Red]. Terlepas dari perdebatan ulama tentang status hadits pengakuan nabi sebagai ibnu dzabihaini, banyak hadits-hadits lain yang substansinya sejalan dengan klaim nabi tersebut. Karena an sich-nya julukan Ad-Dzabih untuk Abdullah berangkulan erat dengan kisah mimpi Abdul Muthalib yang diperintah Allah menggali sumur Zamzam.
Banyak sekali Hadits yang mengabarkan peristiwa ini dengan berbagai macam redaksi. Maka sejarah Abdullah bergulir dari sini. Saat itu pembesar Quraisy menentang keras hasrat Abdul Muthalib menggali sumur zamzam, di karenakan letaknya yang berada di antara dua berhala, Ash dan Nailah. Selain itu, mereka juga mengetahui Abdul Muthalib tidak mempunyai apa dan siapa, kecuali seorang anak laki-laki yaitu Al-Harits. Masih ditambah lagi dengan aura homo homini lupus [manusia adalah serigala bagi manusia yang lain, Red] yang sedang menjangkiti kabilah-kabilah besar penguasa tanah arab. Maka lengkaplah alasan Abdul Muthalib untuk tidak berdaya. Abdul Muthalib pun beranjak pergi dalam galau yang mendalam. Lalu berdiri dihadapan Ka’bah dan bernadzar kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Sa’ad yang sanadnya marfu’ sampai Abdullah bin Abbas RA, menuturkan: Ketika Abdul Muthalib bin Hasyim menyadari bahwa hanya sedikit kemampuan yang dia miliki untuk menggali Zamzam, dia pun bernadzar, “Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa mampu melindungiku saat aku menggali zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk korban”. Seiring perjalanan zaman, anak-anak Abdul Muthalib pun menjadi besar dan telah genap sepuluh orang. Abdul Muthalib berniat merealisasikan rencananya menggali Zamzam, sambil bersiap-siap mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan dari nadzar yang dia ucapkan. Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil, Abdullah. Ketika nama Abdullah keluar dalam undian, maka orang yang ada disekitarnya berusaha menolak, mereka mengatakan tidak akan membiarkan Abdullah disembelih.
Abdullah saat itu terkenal sebagai seorang yang bersih, tidak pernah menyakiti siapa pun. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia seolah taman bunga di tengah gurun sahara yang tandus. Sungguh Abdullah telah menarik simpati masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami sebagai tebusan baginya, daripada ia yang harus disembelih. Tidak ada yang lebih baik dari dia. Pertimbangkanlah kembali masalah ini, dan biarkan kami bertanya kepada Kahin (Peramal-dukun)”. Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian pembesar Quraisy mendatangi seorang Kahin
“Berapa taruhan yang kalian miliki?” tanya Kahin. “Sepuluh ekor unta.” Jawab mereka. “Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika dalam pengundian yang keluar nama Abdullah lagi maka tambahlah sepuluh ekor unta, begitu seterusnya, hingga tidak keluar lagi nama Abdullah”, perintah Kahin kepada mereka. Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun masih selalu mengeluarkan nama Abdullah, dan Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, hingga saat jumlah unta mencapai seratus ekor maka keluarlah nama unta tersebut. Masyarakat begitu gembira hingga berlinang air mata, demi menyaksikan Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka’bah sebagai ganti Abdullah. Kedua hadits di atas [hadits pengakuan nabi sebagai ibnu ad-dzabihaini dan hadits kisah penyembelihan Abdullah] mengisyaratkan sebuah kongklusi, walau keduanya berbeda dalam status, namun keduanya bersepakat bahwa Abdullah adalah Ad-Dzabih sebagaimana Ismail. Maka tanpa melihat status ghorib-nya hadits “ana Ibnu Ad-Dzabihaini”, Muhammad tetaplah ibnu Dzabihaini. Ahli Surga atau Neraka?
Setelah sedikit banyak mengetahui sosok Abdullah berikut lika-liku hidupanya. Maka selanjutnya kita coba menyelami arus perdebatan ulama –setelah wafatnya- mengenai status Abdullah di akhirat kelak, termasuk ahli surga atau neraka? Tercatat dua kubu besar ulama yang berselisih tentang statusnya di akhirat:
- Kubu pertama percaya bahwa bapak dan ibu nabi ini akan menjadi penghuni neraka. Salah satu dalil yang dipakai dalam menghukumi kedua orang tua nabi ini adalah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar, At-Thabroni, dan Al-Bayhaqi, dengan lafadz dari Ma’mar: Seorang arab bertanya kepada nabi, “di mana bapakku?”. Jawab nabi, “di neraka?”. “Lalu di mana bapakkmu?” tanya orang arab itu lagi. ”Ketika kamu melewati kubur seorang kafir, maka sesungguhnya dia langsung berada di neraka” sanad hadits ini shahih menurut syarat syaikhani; Bukhori-Muslim [Sunan Ibnu Majah: Bab Janaiz, hal.105]. Al-Baihaqi dan At-Thabroni menambahkan, setelah menanyakan hal tersebut, orang arab tadi langsung masuk Islam. Untuk sedikit perenungan, lafadz-lafadz hadits yang menyebutkan ayah dan ibu nabi berada di neraka bertentangan dengan spirit ayat yang artinya: “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15). Jadi bisa disimpulkan, sebelum turunnya perintah dan larangan tidak ada keburukan yang akan dikenakan adzab (sangsi), kecuali setelah Allah mengutus rasul-rasul yang membawa Syari’at-Nya. Bahkan jumhur ulama bersepakat ayat ini me-nasakh [menghapus] semua hadits yang berhubungan dengan permasalahan tadi ataupun sejenisnya, seperti hadits tentang status balita-balita dari kaum Musyrikin.
- – Kubu kedua meyakini bahwa orang tua nabi termasuk ahli surga. Muhammad Fauzi hamzah dalam “Abdullah abun-nabi”-nya mengutarakan sebab dikategorikannya orang tua nabi termasuk ahli surga: 1] Karena mereka tergolong ahlu fathroh yang hidup diantara dua masa kerasulan. Dakwah nabi yang pertama tidak sampai pada mereka, dan dakwah nabi yang kedua sama sekali belum diketahui, sebab azal terlebih dahulu menjemput nyawa mereka. Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh sahabat Al-Aswad bin Sari’ RA menyebutkan: 4 macam golongan manusia yang protes pada hari kiamat: 1] Seorang tuna rungu yang tidak mendengar sama sekali, 2] Orang bodoh, 3] Seorang tua yang pikun 4] Seorang yang wafat pada masa fathroh…..orang yang mati pada masa fathroh berkata: Tuhanku tidak ada seorangpun dari rasulmu yang sampai kepadaku. Tuhan pun memutuskan keyakinan mereka lalu mengirimnya ke neraka. Maka barang siapa memasuki neraka [diantara mereka berempat, red], akan merasa dingin dan sejuk. Sedang yang tidak ingin memasukinya, tuhan akan menariknya [dari jalur neraka, red]. 2] Mereka masuk surga karena tidak berlaku syirik. Sebagian menyebutkan karena mereka mengikuti agama nenek moyangnya nabi Ibrahim, “Alhanifiyyah”
Tidak hanya kedua sebab tadi yang mengisyaratkan orang tua nabi layak menjadi penghuni surga, karena syafaat pun berlaku buat mereka. Rasulullah bersabda, “Mengapa banyak kaum mengatakan bahwa syafaatku tidak akan diperoleh keluargaku, sesungguhnya mereka akan mendapatkan syafaatku [Subulul Huda [1] : 298]. Wallahu A’lam bis-Showab.

PUTRA PUTRI ROSULULLAH

Menurut pendapat ulama yang paling sahih, putra-putri beliau berjumlah tujuh orang. Tiga laki laki dan empat perempuan. Putra beliau yang pertama ialah Qasim, dan dari nama putra beliau inilah yang kemudian menjadi julukan beliau. Abbal Qasim.
Kemudian Zainab, Ruqayyah, Fathimah, Ummu Kultsum (namanya pun menj adi julukannya), dan kemudian Abdullah yang dinamai juga dengan Thayib atau Thahir.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa Thayib dan Thahir itu lain dari Abdullah yang keduanya dilahirkan dari satu rahim sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, dan ada pula yang mengatakan lain dari itu. Semuanya dilahirkan di kota Makkah, dari satu kandungan yaitu Siti Khadijah. Kemudian lahir Ibrahim dari kandungan Maria Al-Qibthiyah.
1. Qasim
Qasim meninggal di kota Makkah setelah usianya meneapai dua tahun. Ada juga yang mengatakan di bawah dua tahun dan ada pula yang mengatakan di atas dua tahun. Dia adalah putra beliau yang pertama meninggal dunia. Kemudian Abdullah, yang juga meninggal di Makkah ketika masih kanak-kanak. Ketika itu, Al-Ash bin Wa’il berkata: “Terputuslah keturunannya!”
Maka Allah menurunkan firman-Nya: ‘Sesungguhnya orang-orang yang membeneimu itulah yang akan terputus keturunannya’. (QS A1-Kautsar: 3)
2. Ibrahim
Ibrahim dilahirkan di bulan Dzulhijjah tahun kedelapan Hijrah. Beliau meng-akikah-kannya pada hari ketujuh dari kelahirannya dengan menyembelih dua ekor domba, dan pada hari itu juga ia diberi nama dan rambutnya dicukur.
Beliau bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut Ibrahim. Dan rambut itu ditanam. Ibrahim meninggal dunia pada tahun kesepuluh Hijriah dalam usia satu tahun sepuluh bulan, dan ada yang mengatakan satu tahun enam bulan. Dimakamkan di Baqi’.
3. Zainab
Zainab dipersunting oleh saudara sepupunya Abul’Ash bin Rabi’ bin Abdul ’Uzza bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Ibunya Halah binti Khuwailid. Dari perkawinan ini lahirlah Ali dan Umamah. Ali putra Zainab inilah yang digoncengkan Rasulullah di belakang ontanya pada peristiwa penaklukan kota Makkah (Fath-Makkah). Ia meninggal dunia di kala usianya menginjak dewasa. Sedangkan Halah binti Mughirah dipersunting oleh Ali bin Abu Thalib, sesudah bibinya Fathimah tiada, sesuai wasiat dari Fathimah. Setelah Ali meninggal dunia, ia kemudiandipersunting oleh Mughirah bin Nofel bin Harits bin Abdul Mutthalib berdasarkan wasiat Ali. Dari perkawinannya dengan Mughirah ini, Halah melahirkan seorang anak yang diberi nama Yahya bin Mughirah.
Ia meninggal dunia sebelum Mughirah. Dahulu, semasa kecilnya, Rasulullah sangat
suka sekali kepadanya, sehingga sering dibawa beliau dalam shalat.
Zainab dilahirkan pada tahun ketigapuluh dari kelahiran Rasul s.a.w. dan meninggal dunia pada tahun kedelapan Hijriah.
4. Ruqayah
Ruqayah di persunting oleh Utsman bin Affan. Konon hal itu terjadi di masa jahiliyah, dan ada juga yang mengatakan sesudah Utsman masuk Islam. Utsman berangkat hijrah bersama Ruqayah ke negeri Ethiopia dua kali. Ruqayah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdullah bin Utsman, dan meninggal sesudah Ruqayah, dalam usia enam tahun. Ketika itu, matanya dipatuk seekor ayam jantan hingga mukanya bengkak dan akhirnya meninggal dunia. Ruqayah dilahirkan pada tahun ketigapuluh tiga dari kelahiran Nabi s.a.w., dan meninggal pada hari tibanya Zaid bin Haritsah di Madinah sambil membawa berita tentang kekalahan orang-orang musyrik di Badr.
5. Ummu Kultsum
Ummu Kultsum dipersunting oleh Utsman sesudah kematian Ruqayah. Karena itulah Utsman mendapat gelar Dzunnurain (pemilik dua cahaya). Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibn Asakir dari Abu Hurairah. Nabi s.a.w. mendatangi Utsman di pintu masjid, lalu beliau berkata: “Hai Utsman, Jibril telah menyuruhku agar mengawinkan engkau dengan Ummu Kultsum dengan mahar sama seperti mahar Ruqayah dan sama seperti engkau memperlakukan Ruqayah.”
Ummu Kultsum tidak melahirkan anak dari Utsman. Ia meninggal pada tahun kesembilan Hijriah. Tatkala Ummu Kultsum tiada, Nabi berkata: “Kalian kawinkanlah Utsman, seandainya aku masih mempunyai seorang putri lagi, sungguh akan aku kawinkan lagi ia dengannya. Aku tidaklah mengawinkannya, melainkan dengan wahyu dari Allah SWT.”
Ruqayah dan Ummu Kultsum sebelum itu telah pernah kawin. Ruqayah dengan Utbah bin Abu Lahab dan Ummu Kultsum dengan Utaibah bin Abu Lahab yang kemudian dimangsa singa akibat doa Rasul s.a.w. Tetapi perkawinan mareka tidak lama, atas suruhan Abu Lahab akhirnya kedua orang itu menceraikan mereka, sebelum bercampur.
6. Fathimah
Fathimah binti Rasulullah dipersunting oleh Ali bin Abu Thalib. Ketika itu, Ali berusia duapuluh satu tahun lima bulan, sedangkan Fathimah berusia limabelas tahun lima bulan, sesudah kepulangan dari perang Badr. Demikian disebutkan dalam kitab sejarah Al-Halabiyah. Sedang lahirnya adalah satu tahun sebelum kenabian, dan meninggal dunia enam bulan sesudah ayahnya Rasulullah s.a.w. meninggal, yaitu pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun kesebelas Hijriah. Dimakarnkan oleh Ali pada malam hari.
Fathimah, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Duraid, adalah kata yang berasal dari “Fathman” yang sama artinya dengan “qathan” atau “man’an”, artinya “memotong, memutuskan atau menecegah”. Ia dinamakan demikian karena Allah SWT mencegah dirinya dari api neraka. Sebagaimana yang disebutkan dalam akhbar-akhbar yang akan dijelaskan nanti.
Sebelum itu, Fathimah sudah pernah dilamar oleh Abu Bakar dan Umar, namun ditolak oleh Rasul dengan halus. Ketika Ali mengajukan lamaran, maka lamarannya itu langsung diterima. Mas kawinnya adalah baju besinya, sebab Ali tidak mempunyai apa-apa selain dari itu. Kemudian baju besi itu dijual denga harga empat ratus delapan puluh dirham. Kemudian Rasulullah s.a.w. memberi kan kepada Fathimah sebuah bantal dari kulit yang diisi rumput kering, dan rumahnya dihampari dengan pasir.
Beliau juga memberikan sebuah kulit domba yang sudah disamak kepada Fathimah untuk dijadikan kasurnya, dan sebuah gantungan pedang, wadah air dari kulit serta dua buah tempayan tanah, seperti yang disebutkan dalam beberapa riwayat.
Dalam sebuah hadis riwayat Muslim dari sahabat J abir: “Kami menghadiri perayaan perkawinan Ali bin Abu Thalib dan Fathimah binti Rasulullah s.a.w. Tidak pernah kami menyaksikan perayaan sebaik itu. Rasulullah telah menghidangkan buat kami buah anggur kering dan kurma.”
Diriwayatkan oleh Al-Thabarani hadis yang bersumber dari Asma: “Tatkala Fathimah diserahkan kepada Ali bin Abu Thalib, ia tidak mendapatkan apa apa di dalam rumah Ali selain dari lantai pasir, sebuah bantal yang berisi rumput kering, sebuah tempayan tanah dan sebuah kendi. Kemudian Rasulullah mengutus seseorang kepada Ali membawa pesan: ‘Janganlah kau dekati isterimu hingga aku datang menemui kalian berdua! ‘
Tak lama kemudian beliau datang, lantas beliau meminta sebuah bejana berisi air, lalu beliau membacakan doa pada air itu beberapa saat lamanya. Setelah itu beliau mengusap dada dan muka Ali dengan air tadi, lalu beliau memanggil Fathimah, lalu sisa air itu dipercikkan beliau ke
atas tubulmya.
Dalam hadis Buraidah disebutkan: “Lalu Rasulullah meminta sebuah bejana berisi air dan kemudian berwudhu. Setelah itu beliau memercikkan air itu ke atas Ali seraya berdoa ’Ya Allah, berilah keberkatan dalam perkawinan mereka ini dan berilah keberkatan kepada keturunan mereka!’”
Sedang dalam riwayat lain disebutkan: “Dan beliau pun memercikan air tersebut pada kepala dan antara kedua dada Siti Fathimah seraya berdoa: ‘Ya Allah, aku memohonkan perlindungan kepadamu buat dirinya dan diri keturunannya dari gangguan setan yang terkutuk’
Selama hidup berumah tangga dengan Siti Fathimah, Ali tidak mengawini wanita lain. Ali pernah melamar puteri Abu Jahal, namun Rasulullah tidak menyetujui hal itu. Beliau berkata: “Demi Allah, puteriRasulullal1 tidak mungkin dikumpulkan dengan putri musuh Allah di bawah satu orang laki-laki.”
Ali pun membatalkan lamaran tersebut. Dari perkawinan Ali dan Fathimah ini, Fathimah melahirkan enam anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Laki-laki: Hasan, Husein dan Muhassin.
Sedangkan yang perempuan ialah, Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqayah. Demikian diriwayatkan oleh Laits bin Sa’ad. Ruqayah meninggal dunia sebelum dewasa, dinukil oleh Ibnu Jauzi. Adapun lHasan dain Husein banyak menurunkan keturunan sebagaimana akan dijelaskan kemudian. Sedangkan Muhassin, meninggal karena ibunya keguguran.
Zainab dipersunting oleh saudara sepupunya yang bernama Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib, dan melahirkan Ali, Aunan Al-Akbar, Abbas, Muhammad dan Ummu Kultsum. Keturunan mereka banyak dan sampai sekarang masih ada. Tentang Zainab ini akan dibiearakan lagi di bagian lain.
Umum Kultsum dipersunting oleh Umar bin Khattab r.a. Ia melahirkan Zaid dan Ruqayah, tetapi keduanya tidak memperoleh keturunan. Kemudian Umar tiada, ia dipersunting pula oleh saudara sepupunya yang bernama Aun bin Ja’far bin Abu Thalib. Dan ketika Aun ini meninggal dunia, maka ia dipersunting pula oleh saudara Aun yang bernama Muhammad, dan Muhammad pun meninggal. Lalu ia dipersunting pula oleh saudara Muhammad yang bernama Abdullah, tanpa melahirkan seorang putra pun dari ketiga orang suaminya yang terakhir ini.
Demikian disebutkan oleh Al Suyuthi dalam kitab Al-Zainabiyah. Sedangkan di dalam kitab Al-Mawahib disebutkan bahwa Ummu Kultsum melahirkan seorang anak perempuan dari suaminya yang kedua, namun meninggal dunia selagi kanak-kanak.***

Adab dan Doa sebelum Tidur

Sebagai pengantar mari kita simak komentar seorang irfan (sufi besar) yaitu Allamah Syeikh Jawad Al-Maliki At-Tabrizi berpesan agar kita selalu memperhatikan adab tidur, supaya Allah Yang Maha Dermawan memberi karunia kepada kita dalam tidur kita, yaitu karunia yang agung sebagaimana yang telah dikaruniakan kepada para nabi, para wali dan orang-orang mukmin dalam tidur mereka.



Selain itu agar kita tahu bahwa Allah swt menganugrahkan pengenalan diri kepada sebagian mereka dalam tidur mereka, sehingga seolah-olah ia melihat dirinya berada di alam yang tinggi dan hakikat dirinya bercahaya, dan seolah-olah dirinya menyatu dengan hakikat malaikat maut. Berkat keagungan kondisi ruhani ini ketika terbangun seolah-olah ia melihat malaikat itu merapatkan tubuhnya padanya. Kemudian ia bertanya-tanya, mengapa ini terjadi… sampai keadaan itu menghilang darinya.

Wahai saudara-saudaraku, betapa banyak makrifat yang diungkapkan pada seorang Salik (penempuh perjalanan ruhani) dalam mimpinya; dan betapa banyak Maqamat (stasiun-stasiun perjalanan ruhani) yang dikaruniakan kepadanya melalui mimpi-mimpinya yaitu bertemu dengan para Nabi (as ), para Imam (sa) dan para ulama besar (ra).

Ada suatu hadis yang menjelaskan tentang maksud firman Allah swt:

وَلَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ


“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat.” (Yunus: 64). Menurut hadis tersebut bahwa yang maksud dengan kata “Al-Busyra fil hayatid dun-ya” (berita gembira dalam kehidupan di dunia) adalah mimpi yang baik yang dirasakan oleh seorang mukmin, atau pengalaman ruhani yang diperlihatkan dalam mimpinya.

Allamah Syeikh Jawad Al-Maliki At-Tabrizi banyak mencapai keinginannya melalui tidurnya. Yaitu, ketika beliau mimpi bertemu dengan Ma’shumin (orang-orang suci), dan mereka mengilhaminya karunia-karunia yang agung dalam tidurnya, ia merasakan kelezatan dan kebahagiaan ruhani pada saat bangun dari tidurnya akibat dari kelezatan ruhani yang ia rasakan dalam mimpinya. Sehingga, setiap menjelang tidur ia penuh harapan dan keinginan untuk memperoleh mimpi seperti itu.

Ada salah seorang bertanya kepadanya: Bukankah kesenangan itu hanya dalam mimpi? Ia menjawab: Aku menyukai yang demikian. Lalu ia melanjutkan jawabannya dalam bentuk syair berbahasa Persia, yang artinya:
Aku, aku berzikir kepada-Mu dalam kesunyian
ingin melihat keindahan-Mu dalam tidurku
Sehingga ketika aku bangun dari tidurku
Engkaulah yang pertama datang ke dalam kalbuku
(Adab Tidur oleh Allamah At-Tabrizi)

Adab-Adab Tidur
Di antara adab tidur adalah menghadapkan wajah kita ke kiblat dan hati kepada Allah swt, menyebut nama-nama Allah, melakukan amalan-amalan menjelang tidur sesuai dengan kemampuan, menyerahkan jiwanya kepada Allah Yang Maha Agung, dan mengamalkan amalan-amalan yang terpenting menjelang tidur, yaitu:

• Mbaca Bismillahir Rahmanir Rahim dalam hati dan lisan.
• Membaca Surat Al-Kahfi 110, sambil merenungi kandungan maknanya, yaitu:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ اِنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَ لاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدَا


Qul innamâ ana basyarun mitslukum yûhâ ilayya, innamâ Ilâhukum Ilâhun wâhid, faman kâna yarjû liqâa Rabbihi falya’mal ‘amalan shâlihan walâ yusyrik bi’ibâdati Rabbihi ahadâ.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110).

• Membaca surat Al-Baqarah 285, sambil merenungi kandungan makna, yaitu:
آمَنَ الرَّسولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَ الْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَ مَلاَئِكَتِهِ وَ كُتُبِهِ وَ رُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَك رَبَّنَا وَ إِلَيْك الْمَصِيْرُ
Amanar Rasûlu bimâ unzila ilayhi mir Rabbihi wal mu’minûna, kullun âmana billâhi wa malâikatihi wa kutubihi wa rusulihi, lâ nufarriqu bayna ahadin mir rusulihi, wa qâlû sami`nâ wa atha`na ghufrânaka Rabbanâ wa ilaykal mashîr.

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasu-rasul-Nya, dan mereka berkata: Kami dengar dan taat. (Mereka berdoa): Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan Engkaulah tempat kembali. (Al-Baqarah: 285).

• Membaca Tasbih Az-Zahra’, yaitu: Allahu Akbar (34 kali), Alhamdulillah (33 kali), Subhanallah (33 kali).
• Membaca ayat Kursi (Al-Baqarah: 255)
• Membaca Surat Al-Ikhlash (21 kali atau 3 kali)
• Membaca (3 kali):
يَفْعَلُ اللهُ مَايَشَآءُ بِقُدْرَتِهِ وَيَحْكُمُ مَايُرِيْدُ بِعِزَّتِهِ


Yaf’alullâhu mâ yasyâu bi-qudratihi wa yahkumu mâ yurîdu bi-’izzatih.
Allah melakukan apa yang diinginkan dengan kekuasaan-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki dengan keperkasaan-Nya.

• Membaca surat Ali-Imran 18:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَ الْمَلاَئِكَةُ وَ أُولُوا الْعِلْمِ قَائِمَا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكيمُ‏

Syahidallâhu annahû lâ ilâha illâ Huwa, wal malâikatu wa ûtul ‘ilmi, qâiman bil-qisthi, lâ ilâha illâ Huwal ‘azîzur rahîm.

Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia Yang Menegakkan keadilan; para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Perkasa dan Bijaksana.(Ali-Imran: 18).

• Membaca istighfar
(Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga, bab 1, halaman 126)

Amalan Fatimah Az-Zahra’ (sa) Menjelang tidur
Fatimah Az-Zahra’ puteri Nabi saw berkata: Pada suatu malam menjelang aku tidur Rasulullah saw datang kepadaku. Lalu beliau bersabda: “wahai Fatimah, janganlah kamu tidur sebelum kamu mengamalkan 4 hal: menamatkan Al-Qur’an, menjadikan para Nabi sebagai pemberi syafaat bagimu, menjadikan orang-orang mukmin ridha kepadamu, melakukan haji dan umrah.” Fatimah bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, engkau perintahkan aku empat hal yang tak mampu aku lakukan, Rasulullah saw tersenyum dan bersabda: “Jika kamu membaca Surat Al-Ikhlash (3 kali), kamu seperti menamatkan Al-Qur’an; jika kamu bershalawat kepadaku dan para nabi, kami para nabi akan menjadi pemberi syafaat bagimu di hari kiamat; jika kamu memohonkan ampunan bagi orang-orang mukmin, mereka akan ridha padamu; jika kamu membaca Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar, kamu seperti melakukan haji dan umrah.” (Mafâtihul Jinân, kunci-kunci surga, hlm 488)
Wasalam, semoga bermanfaat

DO'A SERTA RENUNGAN


1. Do’a sebelum makan:

اللهم بارك لنا فيما  رزقتنا وقنا عذاب النار

Ya Allah berilah berkah kepada kami dari apa yang engkau beri rezeki pada kami dan hindarkanlah kami dari azab neraka.
Do,a sesudah makan:
الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا من المسلمين
Segala Puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami dan menjadikan kami muslim.

Do’a Iftar (buka Puasa):

اللهم لك صمت وبك آمنت وعلى رزقك أفطرت برحمتك يا ارحم الرحمين

    Ya Allah untuk-Mu  lah aku berpuasa dan kepada-Mu lah aku beriman dan atas rizki-                     Mu-lah aku berpuka, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


2. Do’a masuk Masjid:
اللهم افتح لى أبواب رحمتك
Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.
Do’a keluar Masjid:
اللهم اني اسألك فضلك
Ya Allah sesungguhnya aku minta kepada-Mu dengan keutamaan-Mu.

3. Do’a masuk WC:
اللهم اني أعوذ بك من الخبث والخبائث
Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari Godaan Syaiton laki-laki dan Perempuan. (HR.Bukhari)
Do’a keluar dari WC:
غفرانك الحمد لله الذي اذهب عني الأذى وعافانى
Aku minta ampun kepada-Mu, segala puji bagi Allah  yang telah menghindarkan daku dari penyakit dan menyehatkanku.

4. Do’a sebelum tidur:
باسمك اللهم أحيا وبأموت
    Dengan namamu, aku hidup dan aku mati.
  Do,a ketika bangun tidur:
الحمد الله الذي أحيانا بعدما أماتنا واليه النشور
   Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami setelah kami ditidurkan, dan             
   kepadaNyalah kami akan di bangkitkan.

5. Do’a ketika keluar dari rumah:
بسم الله توكلت على الله ولاحول ولا قوة الا بالله
  Dengan nama Allah (aku keluar) aku bertawakkal kepadaNya, tiada daya dan upaya        kecuali dengan kekuatan Allah.
Do`a ketika masuk rumah:                                     
     بسم الله ولجنا وبسم الله خرجنا وعلي الله توكلنا
    Dengan nama Allah kami masuk (kerumah) dengan nama Allah kami keluar (darinya) dan kepada Tuhan kami bertawakkal.





6. Do’a ketika mendengarkan Adzan:
      Seseorang untuk mendengarkan adzan hendaklah membaca sebagaimana yang di   kumandangkan oleh muadzin, kecuali bacaan :حي علي الصلاة   (hayya 'alassholaah) dan حي علي الفلاح (hayya 'alalfalaah) maka padanya bacalah :لاحول ولاقوة الابالله    (laa haula walaa quwwata illa billah)
     Membaca shalawat kepada Nabi saw sesudah adzan :        
 اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت سيدنا محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته(انك لا تخلف الميعاد)
Ya Allah, Tuhan panggilan yang sempurna (azan) dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah Al-Wasilah (derajat di surga,yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi SAW). Dan Fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkan Beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

7. Do`a sebelum wudhu:
بسم الله          Dengan nama Allah (saya berwudhu).                                        
    Do`a setelah berwudhu:   
اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسول الله
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang  patut di sembah kecuali Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba & utusanNya .

اللهم اجعلني من التوابين واجعلنى من المتطهرين

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah termasuk orang-orang (yang senang) bersuci.

8. Do’a ketika bersin:
Apabila seseorang diantara kamu bersin hendaklah membaca : الحمد لله (segala puji bagi Allah), lantas saudara atau temannya berkata : يرحمك الله  (semoga Allah memberi berkah kepadamu), Bila saudara atau temannya berkata demikian bacalah :
يهديكم الله ويصلح بالكم (semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dan memperbaiki hatimu).

9. Do’a Pelebur Dosa Majlis.
سبحناك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك واتوب اليك
   "Maha Suci Engkau, Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan   kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.

10. Do’a sebelum berhubungan suami istri
بسم الله اللهم جنبنا الشيطان و جنب الشيطان ما رزقتنا
        Dengan nama Allah. Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk  mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami.

11. Doa untuk dijauhkan dari bala dan marabahaya:
بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شئ في الأرض و لا في السماء وهو السميع العليم
"Dengan nama Allah yang segala sesuatu baik di langit maupun di bumi tidak akan memberi mudhorot (bahaya) apa-apa selama berlindung  dengan menyebut nama-Nya

 12. Doa penawar dan penyejuk hati dari kesedihan, rasa malas, kebingungan, ketidak  mampuan, bakhil dan keterlilitan hutang.
اللهم إني أعوذ بك من الهم و الحزن, و أعوذ بك من العجز و الكسل, وأعوذ بك من الجبن و البخل, وأعوذ بك من غلبة الدين و قهر الرجال
"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan keduka-citaan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang penindasan orang-orang."

Kamis, 03 Maret 2011

DAHSYATNYA SHOLAWAT

Shalawat dan salam marilah kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw dan keluarga, sahabat-sahabat serta para pengikutnya.
Ada empat perbuatan ringan yang apabila kita lakukan, maka kita termasuk golongan orang yang tidak terpuji.
1. Seseorang yang membuang air kecil sambil berdiri, 2. Seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, 3. Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti apa yang diucapkan muadzin, 4. seseorang yang apabila mendengar nama Nabi Muhammad Saw disebut, tetapi tidak membacakan shalawat atasnya.
Sabda Nabi Muhammad Saw:

أربع من الجَفَاءِ أن يبول الرجل وهو قائم، وأن يمسح جبهته قبل أن يفرغ من الصلاة، وأن يسمع النداء فلا يشهد مثل ما يشهد المؤذّن، وأن أذكر عنده فلا يصلي عليّ. (رواه البزار والطبراني)
Artinya:
“Empat perbuatan termasuk perbuatan yang tidak terpuji, yaitu (1) bila seseorang buang air kecil sambil berdiri, (2) seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, (3). Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti yang diucapkan muadzin, (4) seseorang yang apabila mendengar namaku disebut, tetapi ia tidak membacakan shalawat atasku. (HR. Bazzar dan Tabhrani)

    Dalam ibadah sehari-hari, sebenarnya ada sebuah perbuatan ringan yang apabila kita lakukan mendatangkan akibat yang maha dahsyat, dan apabila kita tinggalkan maka kita termasuk golongan orang yang tidak berbalas budi.
    Pada saat kita telah diberi bantuan oleh orang lain, sudahlah pasti akan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, atau mungkin mengucapkan doa untuk kebaikannya. Begitu pula dengan Rasulullah Saw yang telah mengeluarkan kita dari lembah kegelapan menuju alam terang benderang, maka sudahlah pantas bagi kita untuk selalu mengucapkan sholawat dan salam atas beliau, sebagai ungkapan rasa terima kasih dan kecintaan kita atas segala jasa dan perjuangan yang tak tertandingi di alam jagad ini.
    Dalam ibadah-ibadah lain, Allah Swt memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk mengerjakannya, namun khusus dalam perintah membaca shalawat, Allah Swt menyebutkan bahwa Allah sendiri bershalawat atasnya, kemudian memerintahkan kepada malaikatNya, baru kemudian pada orang-orang yang beriman untuk bershalawat atasnya. Dengan hal ini semakin menunjukkan bahwasanya melakukan shalawat atas Nabi muhammad saw, tidak cuma sekedar ungkapan terima kasih, tetapi ia juga menjadi ibadah yang utama.
    Bila kita ingin mengetahui bahwa shalawat termasuk ibadah yang utama, maka perhatikan dan renungkan firman Allah Swt dalam al-Quran:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya, bershalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab 56).

    Dari ayat tersebut kita mengetahui, Allah Swt saja sang Pencipta jagad raya dan mahkluk seluruh dunia termasuk diri kita yang kecil ini, mau bershalawat terhadap Nabi Muhammad Saw, dan juga para malaikat yang telah dijamin tak akan berbuat kesalahan turut bershalawat terhadap nabi, mengapa diri kita yang telah diselamatkan beliau masih melupakan ibadah yang teramat mulia ini. Sesungguhnya perbuatan seseorang menunjukkan pada perangai dirinya.
سيرة المرء تنبأ عن سريرته

    Shalawat adalah sebuah ibadah yang tidak berbatas alam, jarak ataupun waktu. Artinya bila diucapkan maka akan menembus alam langit yang sangat jauh, didengar para malaikat, lalu turut menyampaikan doa bagi manusia yang mengucapkannya, dan menembus Alam kubur menyampaikan salam yang diucapkan manusia kepada Nabi Muhammad Saw.
Nabi Saw bersabda:
ما منكم من أحدٍ سلّم علي إذا متُّ إلا جاءني جبريل فقال جبريل يا محمد هذا فلان ابن فلان يُقرئك السلام، فأقول وعليه السلام ورحمة الله وبركاته. (رواه أبو داود).
Artinya:
“Tidak ada salah seorang di antara kamu yang mengucapkan salam kepadaku sesudah aku mati melainkan malaikat jibril datang kepadaku seraya mengucapkan: ‘wahai Muhammad, ini Fulan bin Fulan mengucapkan salam untukmu, maka aku menjawab: “dan atasnya salam dan rahmat serta berkah dari Allah”. (HR. Abu Daud)
Lalu apa fadhilah mengucapkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw?
Ada beberapa riwayat dari hadist Rasulullah Saw, Atsar sahabat Radiallahu anhum dan pengalaman beberapa ulama yang mengisyaratkan imbalan bagi mereka yang mau bershalawat.

1). Shalawat membersihkan dosa
Sabda Nabi Saw:
صلّو عليّ فإن الصلاة علي زكاةٌ لكم واسألوا الله لي الوسيلة، قالوا وما الوسيلة يا رسول الله؟ قال: أعلى درجةٍ في الجنة لا ينالها إلا رجلٌ واحدٌ وأنا ارجو أن يكون أنا هو. (رواه أحمد في مسنده)
“bacalah shalawat atasku karena sesungguhnya shalawat atasku membersihkan dosa-dosamu, dan mintalah kepada Allah untukku wasilah”. Para sahabat bertanya: “apakah wasilah itu?” beliau menjawab: “derajat yang paling tinggi di sorga yang hanya seorang saja yang akan memperolehnya dan aku berharap semoga akulah orang yang memperolehnya”.

2). Shalawat berpahala sepuluh rahmat Allah dan menghapus sepuluh kesalahan
Sabda Nabi Saw:
من صلّى علي صلاةً واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحطّ عنه عشر خطيآت (رواه النسائي)
“barangsiapa yang membaca shalawat atasku satu shalawat maka Allah akan menurunkan sepuluh rahmat kepadanya dan menghapus sepuluh kesalahannya” (HR. Nasai)

3). Dikabulkan hajat di dunia dan akhirat
Sabda beliau Saw:
من صلى علي في اليوم مائةَ مرّةٍ قضى الله له مائةَ حاجةٍ، سبعين منها في الآخرة وثلاثين في الدنيا
“barangsiapa yang membacakan shalawat untukku pada suatu hari seratus kali, maka Allah akan memenuhi seratus hajatnya, 70 di antaranya nanti di akhirat dan 30 di dunia. (Kitab Jam’ul Jawami’, Hal: 796)

4). Terangkatnya derajat manusia
Sabda beliau Saw:
من صلى عليّ من أمتي مخلصاًَ من قَلبِه صلاةً واحدةً صلّى اللهُ عليه عشر صلواتٍ ورفع عشر درجاتٍ ومحا عنه عشر سيئاتٍ. (رواه النسائ)
“barangsiapa di antara umatku yang membacakan shalawat atasku satu kali dengan ikhlas dari lubuk hatinya, maka Allah menurunkan sepuluh rahmat kepadanya, mengangkat sepuluh derajat kepadanya, dan menghapus sepuluh kesalahan”. (HR. Nasai)

5). Menjadikan doa cepat terkabul
Bahwasanya Umar bin Khattab Ra berkata: “Saya mendengar bahwa doa itu ditahan diantara langit dan bumi, tidak akan dapat naik, sehingga dibacakan shalawat atas nabi Muhammad Saw”. (Atsar Hasan, Riwayat Tirmidzi)  

Saudara-saudara kaum muslimin sidang jum’ah yang berbahagia.
Ada sebuah cerita, bahwasanya ulama besar Sufyan ats Tsauri sedang thawaf mengelilingi ka’bah dan melihat seseorang yang setiap kali mengangkat kaki dan menurunkannya senantiasa membaca shalawat atas nabi. Sufyan bertanya: “Sesungguhnya engkau telah telah tinggalkan tasbih dan tahlil, sedang engkau hanya melakukan shalawat atas Nabi. Apakah ada bagimu landasan yang khusus? Orang itu menjawab: “Siapakah engkau? Semoga Allah mengampunimu. Sufyan menjawab: “Saya adalah sufyan ats tsauri”. Orang itu berkata: “seandainya kamu bukanlah orang yang istimewa di masamu ini niscaya saya tidak akan memberitahukan masalah ini dan menunjukkan rahasiaku ini”.
Kemudian orang itu berkata kepada sufyan: “sewaktu saya mengerjakan haji bersama ayahku, dan ketika berada di dekat kepalanya ayahku meninggal dan mukanya tampak hitam, lalu saya mengucapkan “innalillah wa inna ilahi rajiun” dan saya menutup mukanya dengan kain. Kemudian saya tertidur dan bermimpi, dimana saya melihat ada orang yang sangat tampan, sangat bersih dan mengusap muka ayahku, lalu muka ayahku itu langsung berubah menjadi putih. Saat orang yang tampan itu akan pergi, lantas saya pegang pakaiannya sambil bertanya: “wahai hamba Allah siapakah engkau? Bagaimana lantaran kamu Allah menjadikan muka ayahku itu langsung berubah menjadi putih di tempat yang istimewa ini?. Orang itu menjawab: “apakah kamu tidak mengenal aku? Aku adalah Muhammad bin Abdullah yang membawa al-Quran. Sesungguhnya ayahmu itu termasuk orang yang melampaui batas (banyak dosanya) akan tetapi ia banyak membaca shalawat atasku. Ketika ia berada dalam suasana yang demikian, ia meminta pertolongan kepadaku, maka akupun memberi pertolongan kepadanya, karena aku suka memberi pertolongan kepada orang yang banyak memperbanyak shalawat atasku”. Setelah itu saya terbangun dari tidur, dan saya lihat muka ayahku berubah menjadi putih. (Dari Kitab: Tanbihun Ghofilin, as-Samarqhondi, hal: 261)
Begitu dahsyatnya balasan shawalat terhadap Nabi Saw. sehingga bagi siapapun yang mengucapkannya akan melibatkan Allah, para malaikat dan Nabi Muhammad Saw langsung membalasnya, tidak cuma balasan pahala, imbalan atau keselamatan di akhirat, tetapi juga mendapat syafaat dari Nabi Muhammad Saw.
Orang yang mendengar shalawat atas nabi, tetapi tidak menjawabnya lalu ia meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari RahmatNya.
Sabda Nabi:
“Jibril datang kepadaku dan berkata: “wahai Muhammad, barangsiapa yang mendapatkan bulan ramadhan namun ia tidak diampuni dosanya, lalu ia mati dan masuk neraka, maka Allah akan menjauhkan dari RahmatNya. Aku menjawab: “amin”. Jibril berkata lagi: “barangsiapa yang masih bertemu dengan kedua orangtuanya atau salah satu diantaranya kemudian tidak berbuat baik pada orang tuanya, lalu mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari rahmatNya. Aku menjawab: “Amin”. Jibril berkata lagi: “barangsiapa yang disebutkan namamu (muhammad) namun ia tidak membacakan shalawat lalu ia mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkan dari rahmatNya. Aku mengucapkan “Amin”. (HR. Ibnu Hibban).
Ucapkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, disaat kita senggang, disaat akan menggubah posisi kegiatan kita, disaat kapanpun, dimanapun selagi kita mampu. Dan bila ada yang mengucapkan shalawat:
اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد
Maka kita menjawab:
اللهم صلى وسلم وبارك على محمد

Jangan lupakan shalawat, karena bila kita lupa berarti kita telah melupakan seseorang yang telah menunjukkan kita kejalan yang lurus yaitu Nabi Muhammad Saw. bila kita telah melupakan shalawat berarti kita telah melupakan dan keliru dari jalan yang seharusnya kita tempuh menuju sorga.
“barangsiapa yang lupa membaca shawalat atasku, berarti ia telah keliru dari jalan ke sorga” (HR. Ibnu majah).

ROSULULLAH SELALU TERSENYUM

Rasulullah SAW adalah contoh pribadi yang agung, pribadi yang mulia. Beliau diutus sebagai rahmatan lil’alamin, rahmat bagi semesta alam. Beliau adalah penutup para Nabi dan contoh bagi semua manusia.
Hal yang menarik adalah kenapa Rasulullah selalu tersenyum, walaupun beliau dihina dan dicaci maki oleh kaumnya, bahkan ingin dicelakakan oleh sebagian orang. Artikel ini akan membahas panjang lebar tentang hal menarik ini.
Pertama, Rasulullah mengemban misi yang besar. Masih banyak hal-hal yang harus difikirkan dan diselesaikan dihadapannya. Masalah ummat dan penyebaran agama yang menguras banyak tenaga dan waktu harus dilaksanakannya demi tercapainya hal besar tersebut. Sungguh remeh apabila Beliau goyah jika ada hal kecil yang menghambat perjuangannya. Di depan mata Beliau terdapat berjuta planning dan harapan yang harus dicapainya untuk jangka waktu yang Beliau rancang. Harapan dan cita-cita harus Beliau tuntaskan bersama para sahabat-sahabatnya. Apabila masalah kecil itu menggetarkan langkahnya maka misi agung itu tidak akan tercapailah seperti sekarang ini. Harapan dan cita-cita Beliau mengalahkan berjuta cercaan dan hinaan yang dihujamkan kepada insan yang mulia ini.
Kedua, Rasulullah saw adalah pribadi yang agung. Seorang yang berkepribadian agung mempunyai jiwa yang besar. Seorang berjiwa besar akan mudah memaafkan kesalahan orang lain, karena hatinya yang luas bagaikan samudra. Seperti dikutip dari perkataan Aa’ Gym jiwa orang yang besar ibarat sebuah lapangan yang amat luas, apabila terdapat ular dan binatang berbahaya lainnya masih ada lahan lapangan yang lainnya untuk bergerak, sebaliknya jiwa orang yang kerdil akan merasakan sesak apabila terdapat sedikit saja gangguan bagi dirinya, orang lebih sedikit dari dia adalah cobaan baginya, tersinggung sedikit adalah besar baginya, dan masalah kecil ia besar-besarkan. Rasulullah adalah contoh tauladan dalam jiwa yang agung. Beliau adalah orang yang pemaaf dan mudah memaafkan. Beliau marah apabila hak Allah di injak-injak. Dalam suatu riwayat dikatakan dari Aisyah ra: “Ketika aku meletakkan gambar diruanganku aku melihat wajah Rasulullah merah padam dan beliau berkata: “Wahai Aisyah, orang yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang membuat sesuatu menyerupai makhluk Allah.” (H.R. Muttafaqq Alaih) Begitulah ketegasan Rasulullah dalam menegakkan hak-hak Allah. Apabila Beliau dihina Beliau bersabar dan apabila hak Allah dipermainkan maka wajah beliau merah padam.
Ketiga, senyum adalah lambang pribadi yang optimis dan positif. Rasulullah adalah insan yang mulia. Manusia terbaik dimuka bumi ini sejak adanya. Beliau adalah pemimpin agung. Mustahillah seorang pemimpin itu mencontohkan kepesimisan. Beliau ingin mencontohkan keoptimisan dalam menggapai cita-cita bagi seluruh ummatnya. Karena Beliau ingin ummatnya optimis menggapai cita-cita mereka yang mulia. Dan juga senyum melambangkan pribadi yang positif, tidak ada gunanya marah apabila Beliau membalas kejahatan orang Yahudi yang melukainya, karena itu akan membuang tenaga Beliau saja dan masih banyak tugas Beliau di hadapan dan akan sia-sia untuk suatu perkara yang remeh. Apabila kita marah sebenarnya yang rugi adalah kita. Termakan tenaga dan waktu untuk memikirkan batu kerikil-batu kerikil tersebut. Oleh karana itu Allah mengatakan dalam Kitab-nya “Katakanlah wahai Muhammad: “Matilah dengan kemarahan kalian” bagi ‘Bithanatan Min Dunikum’ yaitu golongan yang apabila kalian terkena musibah mereka akan merasakan senang dan apabila kalain mendapatkan kenikmatan hati mereka akan sakit, maka marah adalah penyebab yang tepat untuk kematian mereka. (QS. Ali Imran:118-120)
Begitulah suri teladan dalam diri Rasulullah, seorang insan yang agung. Demikianlah tatkala seorang buta Yahudi di pinggiran kota Madinah mencaci maki Beliau, mengatakan Beliau gila, tetapi Beliau dengan santun menyuapkan kepalan nasi ke mulut orang tua tersebut. Juga kisah seorang Yahudi yang sengaja menagih uangnya lebih dari waktu yang mereka janjikan, yang dia sengaja membuat Beliau marah, tetapi beliau hanya tersenyum. Dan, juga kisah seorang Yahudi yang selalu meludahkannya pada setiap pagi, tetapi disaat ia sakit ternyata Rasulullah-lah orang yang pertama kali mengunjunginya. Sungguh Muhammad Engkau berkepribadian agung.

Rabu, 02 Maret 2011

Bismillahi Wa A'la Millati Rosulillah

ALHAMDULILLAH,kita mengawali aktifitas setelah bangun dari istirahat dengan memuji sang pencipta dan selalu BERSYUKUR terhadap kekasihNYA yang selalu memberi rahmat kepada semua mahluk yang ada

PPRT SETAIL

Loading